MIPA ONLINE SMKN 20 JAKARTA - Keterampilan Proses Sains

MIPA SMKN 20 ONLINE
Welcome, Guest Tuesday, 12.06.2016, 1:08 PM
RSS

Site menu

Login form

Search

Calendar
«  December 2016  »
SuMoTuWeThFrSa
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Entries archive

Our poll
Rate my site
Total of answers: 17

Site friends
  • Create a free website
  • Online Desktop
  • Free Online Games
  • Video Tutorials
  • All HTML Tags
  • Browser Kits

  • Statistics

    Total online: 1
    Guests: 1
    Users: 0

     Keterampilan Proses Sains 
    MATERI 1
    DEFINISI OBSERVASI




    Bagaimana cara ilmuan menemukan dan
    mengembangkan Ilmu Pengetahuan Alam ? Para
    ilmuan berhasil mengembangkan ilmu pengetahuan karena mereka berkerja secara
    sistematis, jujur, dan disiplin. Mereka mengembangkan semua keterampilan yang
    mereka miliki. Ketermapilan itu dinamakan keterampilan proses. Seseorang yang
    ingin mempelajari sains diharapkan dapat menggunakan dan melatih keterampilan
    proses yang dimilikinya sehingga akan terbentuk suatu sikap ilmiah dalam
    menjawab berbagai pertanyaan-pertanyaan di alam. Keterampilan proses sains
    tersebut yang pertama adalah "Kemampuan Melakukan Observasi”



    Ø   
    DEFINISI OBSERVASI



    Istilah observasi berasal dan bahasa Latin
    yang berarti ”melihat” dan "memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada
    kegiatan memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan
    mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam fenomena tersebut. Observasi
    menjadi bagian dalam penelitian berbagai disiplin ilmu, baik ilmu eksakta
    maupun ilmu-ilmu sosial, Observasi dapat berlangsung dalam konteks
    laboratoriurn (experimental) maupun konteks alamiah. Observasi yang berarti
    pengamatan bertujuan untuk mendapatkan data tentang suatu masalah, sehingga
    diperoleh pemahaman atau sebagai alat re-checkingin atau pembuktian terhadap
    informasi / keterangan yang diperoleh sebelumnya.Sebagai metode ilmiah
    observasi biasa diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan fenomena-fenomena
    yang diselidiki secara sistematik. Dalam arti yang luas observasi sebenarnya
    tidak hanya terbatas kepada pengamatan yang dilakukan, baik secara langsung
    maupun tidak langsung. Pengamatan tidak langsung misalnya melalui questionnaire
    dan tes



    Ø    DEFINISI OBSERVASI DARI BEBERAPA PENDAPAT AHLI



    Pengamatan
    merupakan ketrampilan proses yang paling dasar dalam IPA
    untuk
    mengembangkan ketrampilan yang lainn
    ya seperti menafsirkan,
    komunikasi, mengk
    lasifikasi, mengukur, dan sebagainya.  Melalui
     pengamatan  kita dapat 
    belajar  tentang  alam  sekitar  yang sangat
    menakjubkan.
    Kata pepatah: Indera adalah jendela dunia. Kita mengamati
    benda-benda dan peristiwa
    maupun gejala-gejala di alam sekitar melalui pancaind
    era yang dimiliki, yaitu mata sebagai indera
    penglihat
    , telinga sebagaiindera
    pendengar, kulit sebagai indera peraba atau perasa, hidung sebagaiindera pembau
    , dan
    lidah sebagai indera pengecap. Melalui alat indera kita
    memperoleh informasi. Berdasar
    informasi tersebut, kita dapat termotivasi untuk semakin ingin tahu, bertanya, berpikir, dan membuat penafsiran tentang
    apa
    yang  diamati. Selanjutnya  mengadakan  penelitian
     lebih  lanjut  untuk memperoleh informasi lebih banyak
    atau untuk mencari jawaban pertanyaan, atau menguji apa yang dipikirkan.
    Pengamatan terhadap obyek atau gejala alam dilakukan dengan alat indera. Namun karena keterbatasan kemampuan alat indera,
    seringkali pengamatan dilak
    ukan menggunakan alat
    bantu, seperti, mikroskrop
    , kaca pembesar, alatukur dan sebagainya.
    Pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat indera  tanpa
     mengacu  pada  satuan  pengukuran  baku  tertentu disebut pengamatan kualitatif. Sedangkan pengamatan
    yang menggunakan alat ukur yang mengacu pada satuan pengu
    kuran baku tertentu
    disebut pengamatan
    kuantitatif.
    Besaran yang dipero
    leh dari menghitung atau mencacah dan perbandingan juga termasuk
    dalam pengamatan kuantitatif.



    Menurut Kartono (1980: 142) pengertian observasi diberi
    batasan sebagai berikut: "studi yang disengaja dan sistematis tentang fenomena
    sosial dan gejala-gejala psikis dengan jalan pengamatan dan pencatatan”. Poerwandari
    tidak memberikan batasan tentang observasi tetapi memberikan penjelasan tentang
    observasi sebagai berikut: "Observasi barangkali menjadi metode yang paling
    dasar dan paling tua di bidang psikologi, karena dengan cara-cara tertentu kita
    selalu terlibat dalam proses mengamati. Semua bentuk penelitian psikologis,
    baik itu kualitatif maupun kuantitatif mengandung aspek observasi di dalamnya.
    Istilah observasi diturunkan dari bahasa Latin yang berarti "melihat” dan
    "memperhatikan”. Istilah observasi diarahkan pada kegiatan memperhatikan secara
    akurat, mencatat fenomena yang muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar
    aspek dalam fenomena tersebut. Observasi selalu menjadi bagian dalam penelitian
    psikologis, dapat berlangsung dalam konteks laboratorium (eksperimental) maupun dalam konteks alamiah (Banister dkk, 1994
    dalam Poerwandari 1998: 62). Patton (1990: 201 dalam Poerwandari,
    1998: 63) menegaskan observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam
    penelitian, apalagi penelitian dengan pendekatan kualitatif. Agar memberikan
    data yang akurat dan bermanfaat, observasi sebagai metode ilmiah harus
    dilakukan oleh peneliti yang sudah melewati latihan-latihan yang memadai, serta
    telah mengadakan persiapan yang teliti dan lengkap. Flick (2002: 135) menjelaskan
    tentang observasi sebagai berikut: disamping kemampuan berbicara dan
    mendengarkan sebagaimana digunakan dalam wawancara-wawancara, observasi
    merupakan keterampilan harian lain sebagai secara metodelogis disistematisir
    dan diterapkan dalam penelitian kualitatif. Tidak hanya persepsi visual tetapi
    juga persepsi berdasarkan pendengaran, perasaan dan penciuman yang
    diintegrasikan. ("Besides the
    competencies of speaking and listening which are used in interviews, observing
    is another everyday skill which is methodologically systematized and applied in
    qualitative research. Not only visual perceptions but also those based on
    hearing, feeling and smelling are integrated (Adler and Adler
    1998)”). Kerlinger
    (1986, terjemahan Simatupang 1990: 857) intinya menyatakan bahwa manusia
    melakukan pengamatan sehari-hari terhadap orang lain, lingkungan sekeliling dan
    lain-lain. Tetapi pengamatan seperti itu jelas tidak memberikan data yang dapat
    dipergunakan untuk penelitian ilmiah. Oleh peneliti-peneliti kuantitatif agar data
    hasil pengamatan dapat dimanfaatkan dalam penelitian ilmiah perlu diterapkan
    prosedur pengukuran yaitu setiap perilaku diberi skor menurut aturan tertentu,
    sehingga berdasarkan skor-skor tersebut dapat disusun kesimpulan. Namun menurut
    Kerlinger hal tersebut ternyata masih menimbulkan kontroversi dan perdebatan. Para peneliti kuantitatif menyatakan bahwa perilaku
    tersebut harus dikontrol secara ketat dan cermat agar perilaku tersebut dapat
    dikenakan prosedur pengukuran, dengan demikian data tersebut bermanfaat untuk
    ilmu pengetahuan ilmiah. Peneliti-peneliti kualitatif menyatakan bahwa
    pengamatan harus alamiah (naturalistik): pengamat harus larut dalam situasi
    realistik dan alami yang sedang berlangsung, dan harus mengamati perilaku
    sebagai yang muncul dalam wujud yang sebenarnya. Walaupun hal ini dalam
    pelaksanaannya sangat sulit dan rumit. Bachtiar (dalam Koentjoroningrat,
    1977: 139) intinya menyatakan bahwa dalam pengetahuan ilmiah mengenai segala
    sesuatu yang diwujudkan oleh alam semesta, pengamatan merupakan teknik yang
    pertama-tama digunakan dalam penelitian ilmiah. Selanjutnya dinyatakan berbeda
    dengan pengamatan yang dilakukan sehari-hari, pengamatan sebagai cara
    penelitian menuntut dipenuhinya syarat-syarat tertentu yang merupakan jaminan
    bahwa hasil pengamatan memang sesuai dengan kenyataan yang menjadi sasaran
    penelitian. Syarat-syarat tersebut adalah peneliti harus berusaha membandingkan
    dengan hasil pengamatan orang lain dalam masalah yang sama dan dalam keadaan
    yang sama, apabila ternyata mendapatkan hasil yang tidak sama, maka harus
    diperiksa kembali dimana kesalahannya. Untuk menguji kebenaran suatu
    pengamatan, peneliti dapat mengulang pengamatannya kemudian membandingkan
    dengan hasil pengamatan pertama. Walaupun hal ini tidak selalu dapat dilakukan
    karena ada peristiwa yang hanya sekali terjadi, sehingga tidak dapat diamati
    lagi. Dari berbagai pendapat beberapa tokoh tentang pengamatan (observasi) maka
    dapat disimpulkan bahwa pengamatan (observasi) dalam konteks
    penelitian ilmiah adalah studi yang disengaja dan dilakukan secara sistematis,
    terencana, terarah pada suatu tujuan dengan mengamati dan mencatat fenomena
    atau perilaku satu atau sekelompok orang dalam konteks kehidupan sehari-hari,
    dan memperhatikan syarat-syarat penelitian ilmiah. Dengan demikian hasil
    pengamatan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.


    TUGAS SISWA

    1. BUAT 
      MATERI PENGAYAAN/TAMBAHAN ( DITULIS TANGAN / DIKETIK TENTANG ) DARI
      BERBAGAI SUMBER  TENTANG PENGERTIAN LIMBAH MINIMAL 5 LEMBAR KERTAS
      VOLIO/HVS (POINT NILAI 10)
    2. BUAT  10 SOAL DARI MATERI INI DAN KEMUDIAN ANDA JAWAB SENDIRI (POINT NILAI 10)
    3. BUAT LAPORAN TENTANG HAKEKAT/ KEGUNAAN BAGI  ANDA ATAU LINGKUNGAN ANDA  SETELAH MEMPELAJARI MATERI INI (POINT NILAI 10)
    4. TUGAS DIKUMPULKAN PALING LAMBAT 1 MINGGU..!!





    Website builderuCoz
    Copyright MyCorp © 2016